Sejarah kopi di Colol, Manggarai Timur, tidak terdokumentasi secara detail sejak masa kerajaan seperti Bima atau Goa yang pernah memberi pengaruh di wilayah Manggarai. Pada periode tersebut, kopi belum dikenal sebagai tanaman budidaya di pedalaman, dan masyarakat lebih mengandalkan hasil bumi non-perkebunan serta peternakan sebagai sumber penghidupan. Menurut penuturan para leluhur, kopi mulai hadir di tanah Colol pada masa penjajahan Belanda.
Penjajah memulai pemerintahan mereka dari bagian Timur Pulau Flores sebelum berekspansi ke wilayah Barat. Ketika Belanda secara resmi hadir di Manggarai pada tahun 1908 dan menjadikan Ruteng sebagai pusat administrasi, mereka mulai memperkenalkan tanaman kopi, terutama di kawasan dataran tinggi yang dianggap cocok untuk budidaya. Pada akhir tahun 1920-an, kopi mulai dibudidayakan secara lebih intensif di kawasan Manggarai Raya—meliputi Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur atas anjuran dan dukungan pemerintah kolonial Belanda serta Raja Manggarai waktu itu, Alexander Baroek. Colol, yang saat itu merupakan bagian dari Gelarang di bawah Kedaluan Lamba Leda, menjadi pusat awal berkembangnya perkebunan kopi.
Titik penting dalam sejarah kopi Manggarai terjadi pada tahun 1937, ketika Belanda mengadakan sayembara bertajuk “Pertandingan Keboen.” Lomba ini mendorong seluruh masyarakat Manggarai Raya untuk membudidayakan kopi secara serius. Hasilnya, seorang petani asal Colol bernama Bernadus Odjong keluar sebagai pemenang.
Sebagai penghargaan atas keberhasilannya, ia menerima sebuah bendera tiga warna Belanda yang hingga kini masih dijaga oleh keturunannya di Kampung Biting, Desa Uluwae. Penghargaan ini menjadi simbol tonggak kejayaan kopi Colol sebagai komoditas primadona masyarakat Manggarai yang bertahan hingga saat ini.
Dalam kehidupan sosial masyarakat Manggarai, kopi tidak hanya menjadi komoditas ekonomi, tetapi juga meresap dalam budaya dan spiritualitas. Dalam bahasa lokal, kopi sering disebut sebagai “Kopi Tuang”, yang berasal dari kata Tuang (tuan), merujuk pada asal-muasal kopi yang dibawa oleh penjajah Belanda dan para misionaris Eropa.
Kebiasaan minum kopi telah mengakar kuat dalam keseharian masyarakat. Kopi disajikan dalam berbagai suasana—saat berbincang santai, menerima tamu, hingga dalam upacara resmi. Ungkapan lokal seperti “Ite, cenggo inung kopi di” (Wahai saudara, mari singgah menyeruput kopi) mencerminkan keramahan khas Manggarai yang terwujud melalui secangkir kopi.
Selain itu, kopi juga memasuki ranah spiritual melalui tradisi Toto Kopi, yaitu praktik meramal menggunakan ampas kopi. Tradisi ini dikenal secara luas dalam konteks pengetahuan Tasseografi, di mana pola ampas kopi diinterpretasikan untuk membaca nasib seseorang.
Hingga kini, Colol dikenal sebagai salah satu sentra penghasil kopi terbaik di Manggarai Raya, terutama dari varietas Arabika dan Robusta. Keberhasilan ini merupakan buah dari sejarah panjang perjuangan masyarakat lokal yang telah membudidayakan kopi sejak masa kolonial hingga berkembang menjadi bagian identitas dan kebanggaan daerah.
Sejarah kopi di Colol adalah kisah tentang warisan kolonial yang kemudian dijadikan sumber kehidupan, kebanggaan, dan budaya masyarakat. Dari hadiah bendera Belanda hingga secangkir “Kopi Tuang” yang hangat, kopi telah menjadi simbol kerja keras, persatuan, dan kearifan lokal masyarakat Colol.